kembang api


star

Minggu, 11 Oktober 2015

Peran perawat dalam management bencana



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, dimana perawat tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan dirumah sakit saja melainkan juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus mampu secara skill dan teknik dalam  menghadapi kondisi seperti ini.
Kegiatan pertolongan medis dan perawatan dalam keadaan siaga bencana dapat dilakukan oleh proesi  keperawatan. Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang perawat bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai bentuk. Dalam penulisan makalah ini akan dijelaskan pentingnya peran perawat dalam situasi tanggap bencana, bentuk dan peran yang bisa dilakukan perawat dalam keadaan tanggap bencana.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu:
1.        Bagaimana definisi dari bencana?
2.        Bagaimana fase-fase bencana?
3.        Bagaimana kelompok rentan Bencana?
4.        Bagaimana paradigma penanggulangan bencana?
5.        Bagaimana pengurangan risiko bencana?
6.        Bagaimana peran perawat dalam tanggap bencana?
7.        Bagaimana jenis kegiatan siaga bencana?
8.        Bagaimana managemen bencana?
9.        Bagaimana peran perawat dalam managemen Bencana?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Mengetahui definisi dari bencana.
2.        Menjelaskan Fase-fase bencana.
3.        Mengetahui Kelompok rentan Bencana.
4.        Mengetahui Paradigma penanggulangan Bencana.
5.        Mengetahui Pengurangan Risiko Bencana.
6.        Mengetahui Peran perawat Dalam tanggap Bencana.
7.        Mengetahui Jenis KEgiatan siaga Bencana.
8.        Mengetahui Managemen Bencana.
9.        Mengetahui peran perawat dalam managemen Bencana.

Komunikasi terapeutik pada sasaran lansia

BAB I
PENDAHULUAN

A.     LatarBelakang
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontrak dengan orang lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan. Untuk memperbaiki interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering sangat membantu. (Bruner & Suddart, 2001 : 188).
Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Komunikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ). Komunikasi pada lansia membutuhkan perhatian khusus. Perawat harus waspada terhadap perubahan fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang memperngaruhi pola komunikasi. Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat mengakibatkan kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga bagian dalam dan telinga mengalangi proses pendengaran pada lansia sehingga tidak toleran teradap suara. Berdasarkan hal – hal tersebut kami menulis makalah ini yang berjudul “ komunikasi terapiutik pada lansia “.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi komunikasi terapeutik ?
2.      Apa manfaat komunikasi terapeutik ?
3.      Bagaimana karakteristik lansia ?
4.      Bagaimana cara pendekatan perawatan lansia dalam konteks komunikasi ?
5.      Bagaimana teknik komunikasi pada lansia ?
6.      Apa saja hambatan berkomunikasi dengan lansia ?
7.      Bagaimana teknik perawatan lansia pada reaksi penolakan ?
8.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi dengan lansia ?
9.     Apa fase-fase komunikasi terapeutik dengan lansia?

C.   Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui definisi komunikasi terapeutik.
2.      Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik.
3.      Untuk mengetahui karakteristik lansia.
4.      Untuk mengetahui cara pendekatan perawatan lansia dalam konteks komunikasi.
5.      Untuk mengetahui teknik komunikasi pada lansia.
6.      Untuk mengetahui hambatan berkomunikasi dengan lansia.
7.      Untuk mengetahui teknik perawatan lansia pada reaksi penolakan.
8.      Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi dengan lansia.
9.      Untuk mengetahui bagaimama fase-fase komunikasi terapeutik dengan lansia.


UUD Landasan Penanganan LANSIA



LANDASAN PENANGANAN LANJUT USIA

Filsafat negara / P4
UUD 1945, pasal 27 ayat 2 dan pasal 34
o   Pasal 27 ayat 2, berbunyi:
“ Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak ”.
o   Pasal 34, berbunyi:
Ayat 1 : “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara ”.
Ayat 2 : “ Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan ”.
Ayat 3 : “ Negara bertanggungjawab atas penyediaan pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayan umum yang layak ”.

UUD No.9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan bab 1 pasal 1 ayat 1, berbunyi :
     “ Tiap-tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikut sertakan dalam usaha-usaha kesehatan pemerintah ”.

UU N0.4 tahun 1965, Tentang pemberian bantuan penghidupan orang tua, berbunyi :
Bab I
Ketentuan-Ketentuan Umum
Pasal 1, berbunyi : “ Yang dimaksud dengan orang jompo dalam Undang-undang ini ialah setiap orang yang berhubung dengan lanjutnya usia, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi hidupnya sehari-hari ”.

Pasal 2, berbunyi: “Bantuan penghidupan yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah pemberian tunjangan dan perawatan kepada orang jompo yang diselenggarakan secara umum oleh Pemerintah atau di rumah Badan-badan/Organisasi Swasta Perseorangan ”.

Pasal 3, berbunyi: “ Tunjangan yang diberikan kepada orang jompo berupa pemberian bahan-bahan keperluan hidup atau uang, sedangkan perawatan diberikan di rumah sendiri, di rumah peristirahatan atau pengasuhan/pemondokan pada suatu keluarga ”.

Asuhan keperawatan luka bakar pada anak



BAB I
PENDAHULUAN

        A.      Latar Belakang
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut.
Luka bakar pada penatalaksanaan antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama namun pada anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan anak memiliki lapisan kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan).
Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan  sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas.
Prognosis dan penangangan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar; dan penanganan sejak fase awal sampai penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan.
Oleh karena itu, semua orang khususnya orangtua, harus meningkatkan pengetahuan mengenai luka bakar dan penanganannya, terutama pada anak-anak.

c.      B.  Rumusan Masalah
a.       Apa itu luka bakar?
b.      Bagaimana etiologi luka bakar?
c.       Bagaimana patofisiologi luka bakar?
d.      Apa jenis – jenis luka bakar?
e.       Bagaimana penilaian derajat luka bakar?
f.       Bagaimana metode menentukan luas luka bakar?
g.      Apa saja komplikasi luas luka bakar?
h.      Bagaimana penatalaksanaan luka bakar?
i.        Bagaimana asuhan keperawatan luka bakar?

      C.  Tujuan
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum peneliti adalah memberikan asuhan keperawatan pada pasien luka bakar sesuai dengan diagnosa yang muncul.
2.      Tujuan Khusus
Secara khusus peneliti bertujuan agar mahasiswa :
a.       Menjelaskan pengertian tentang luka bakar
b.      Menjelaskan etiologi luka bakar
c.       Menjelaskan patofisiologi luka bakar
d.      Menjelaskan apa saja jenis-jenis luka bakar
e.       Menjelaskan bagaimana penilaian derajat luka bakar
f.       Menjelaskan metode untuk menentukan luas luka bakar
g.      Menjelaskan apa saja komplikasi luka bakar
h.      Menjelaskan bagaimana penatalaksanaan luka bakar
i.        Menjelaskan asuhan keperawatan pada luka bakar

Sistem reproduksi wanita bagian luar



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari ovarium, uterus dan bagian alat kelamin lainnya. Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagai contoh manusia yang dilakukan tubektomi pada organ reproduksinya atau mencapai menopause tidak akan mati. Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia.
Oogenesis atau pembentukan ovum pada wanita telah dimulai sejak dalam kandungan ibunya. Setelah bayi lahir, dalam tubuhnya telah ada sekitar satu juta oosit primer. Sebagian oosit primer mengalami degenerasi sehingga ketika memasuki masa puber jumlah tersebut menurun hingga tinggal sekitar 200 ribu pada tiap ovariumnya. Oosit primer ini mengalami masa istirahat (dorman), kemudian proses oogenesis akan dilanjutkan setelah wanita memasuki masa puber.
Sejak pertama mendapat menstruasi (menarche) yang terjadi antara usia 9-14 tahun organ reproduksi aktif bekerja hingga wanita tersebut berhenti menstruasi (menophause) yang terjadi antara usia 46-54 tahun. Menstruasi merupakan pendarahan yang keluar melalui vagina karena luruhnya dinding rahim (endometrium).  Menstruasi juga merupakan pertanda tidak terjadi kehamilan, tiga perempat bagian jaringan lembut endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi (penanaman embrio) akan terlepas. Kemudian endometrium akan terbentuk kembali  dipersiapkan untuk menerima kemungkinan konsepsi berikutnya, demikian seterusnya terulang kembali secara periodik dan dikenal dengan siklus menstruasi. Remaja putri tidak perlu merasa takut karena menstruasi merupakan peristiwa biologis yang normal dan biasa seperti halnya bernafas dan darah yang mengalir dalam tubuh. Seorang wanita harus mengenal anatomi dan fisiologi organ reproduksinya. Dengan mengetahui anatomi dan memahami fisiologi reproduksinya maka seorang wanita tak perlu merasa cemas dan gelisah terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja dan itu adalah suatu hal yang normal.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatlah rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan anatomi fisiologi sistem reproduksi perempuan?
2. Bagaimana anatomi sistem reproduksi perempuan?
3. Bagaimana fisiologi sistem reproduksi perempuan?
4. Apa saja ganguan pada reproduksi wanita?

C.    Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan di atas, makalah ini disusun untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.  Pengertian anatomi fisiologi sistem reproduksi perempuan;
2.  Anatomi sistem reproduksi perempuan;
3.  Fisiologi sistem reproduksi perempuan;
4.  Gangguan pada reproduksi wanita.

Jumat, 25 September 2015

Peran Perawat Dalam Management Bencana



KATA  PENGANTAR

            Syukur alhamdulillah penyusun ucapkan kehadirat allah swt, karena berkat limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga tugas makalah "Peran Perawat Dalam Management Bencana" dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penyusun menyadari bahwa tugas ini belumlah sempurna kiranya penyusun mengharapkan kritik dan saran pada pembaca agar bisa menyempurnakan makalah ini. Semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


Padang,21 September 2015

          Penulis   







i

Sabtu, 19 September 2015

Puisi ヽ(゚∀。)ノ



MAMA
By : e r y



Teruntuk malaikat terbaik ku mama
Beribu jalan telah kamu tempuh demi arti sebuah kehidupan
9 bulan 10 hari kamu bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi aku anakmu
Melahirkan, Merawat, mendidik, serta memberi arti kenyamanan hidup
Kamu bahkan rela memperjuangkan banyak hal demi arti sebuah kebahagiaan
anak- anakmu

Dirimu adalah puisi terindah yang pernah tercipta
Malaikat terbaikku meski tidak memiliki sepasang sayap
Pahlawan untuk masa depan
Dan lautan samudera tempatku mencurahkan segala kegalauan hati

Ada banyak jasa yang tidak bisa terbalaskan padamu
Tetapi
Sering kali aku membentakmu dengan alasan alasan yang sepintas kecil
Ketika aku merengek dan merajuk karna inginku tidak kamu penuhi
Tak jarang juga kata kata yang tidak seharusnya kamu terima terucap dari mulutku
Tetapi
kamu tetap berdiri kokoh pada pijakan kesabaran menghadapi sifat kekanak kanakanku
terimkasih atas segala ketulusan dan pengorbananmu ma
Aku menyayangimu