kembang api


star

Rabu, 23 Maret 2016

SECTIO CAESSAREA




SECTIO CAESSAREA



Disusun oleh: 

HENDIKA SAFITRI



DOSEN PEMBIMBING : Ns. Revi Neini Ikbal, M. Kep



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES ALIFAH PADANG
                                                                             2016           




             

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini sebagai tugas mata kuliah komunikasi keperawatan, dengan judul “Sectio Caessarea“. Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan insyaAllah sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini.






                                                                 Padang, 20 Maret 2016
                                                                           

                                                                                                                           Kelompok 4








DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ..........................................................................................  i

DAFTAR ISI........................................................................................................  ii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................   1
B. Tujuan................................................................................................................  2

BAB II : TINJAUAN TEORI

      A.      definisi  sectio caesaria..................................................................................... 3
      B.      etiologi sectio caesaria...................................................................................... 3
      C.      indikasi sectio caesaria...................................................................................... 3
      D.      tujuan sectio caesaria........................................................................................  4
      E.      jenis-jenis sectio caesaria..................................................................................  5
      F.      komplikasi sectio caesaria.................................................................................  6
      G.      prognosis sectio caesaria.....................................................................................7
      H.      patofisiolagi  sectio caesaria...............................................................................7
      I.      pemeriksaan penunjang sectio  caesaria...............................................................8
     J.  penatalaksanaan medis post sectio caesaria.............................................................8
  
BAB III JURNAL.................................................................................................    9
BAB IV PEMBAHASAN...................................................................................     16
BAB V: PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................................   21
B. Saran ..................................................................................................................   21

DAFTAR PUSTAKA

 
BAB I

PENDAHULUAN

                 A.    Latar Belakang

Sectio caesarea berarti bahwa bayi dikeluarkan dari uterus yang utuh melalui operasi abdomen.Di negara-negara maju, angka sectio caesarea meningkat dari 5 % pada 25 tahun yang lalu menjadi 15 %. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh “mode”, sebagian karena ketakutan timbul perkara jika tidak dilahirkan bayi yang sempurna, sebagian lagi karena pola kehamilan, wanita menunda kehamilan anak pertama dan membatasi jumlah anak (Jones, 2002).
Menurut statistik tentang 3.509 kasus sectio caesarea yang disusun oleh Peel dan Chamberlain, indikasi untuk sectio caesaria adalah disproporsi janin panggul 21%, gawat janin 14%, plasenta previa 11% pernah sectio caesaria 11%, kelainan letak janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% dengan angka kematian ibu sebelum dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi 0,5% sedangkan kematian janin 14,5%(Winkjosastro, 2005).
Menurut Andon dari beberapa penelitian terlihat bahwa sebenarnya angka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan operasi sectio caesarea lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Angka kematian langsung pada operasi sesar adalah 5,8 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kesakitan sekitar 27,3 persen dibandingkan dengan persalinan normal hanya sekitar 9 per 1000 kejadian.
WHO (World Health Organization) menganjurkan operasi sesar hanya sekitar 10-15 % dari jumlah total kelahiran. Anjuran WHO tersebut tentunya didasarkan pada analisis resiko-resiko yang muncul akibat sesar. Baik resiko bagi ibu maupun bayi. (Nakita, 2008).
Pada tahun 2007-2008 jumlah persalinan dengan tindakan section caesarea di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh berjumlah 145 kasus dari 745 persalinan keseluruhannya atau 19,46 %. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa angka tersebut sudah melebihi batas yang ditetapkan oleh WHO yaitu 10-15 % (Iqbal, 2002).


B. Tujuan
1. Tujuan Umum
     Mahasiswa mampu memahami tentang tindakan section caesaria.

2. Tujuan Khusus  
          a.       Mengetahui definisi dari section caesaria.
          b.      Mengetahui berbagai etiologi dari section caesaria.
          c.       Mengetahui berbagai indikasi dari section caesaria.
          d.      Mengetahui tujuan dari section caesaria.
          e.       Mengetahui berbagai jenis-jenis dari section caesaria.
          f.       Mengetahui berbagai komplikasi dari section caesaria.
          g.      Mengetahui prognosis dari section caesaria.
          h.      Mengetahui patofisiolagi dari section caesaria.
          i.        Mengetahui berbagai pemeriksaan penunjang dari section  caesaria.
          j.        Mengetahui penatalaksanaan medis post section caesaria.


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Definisi
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005)
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998)

B.     Etiologi
Indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar section caesarea adalah :
a.  Prolog labour sampai neglected labour.
b.  Ruptura uteri imminen
c.  Fetal distress
d. Janin besar melebihi 4000 gr
e.  Perdarahan antepartum
    (Manuaba, I.B, 2001)

C.    Indikasi
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-halyang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia).
a)   Fetal distress
b)   His lemah / melemah
c)   Janin dalam posisi sungsang atau melintang
d)  Bayi besar ( BBL
e)   ≥4,2 kg )
f)    Plasenta previa4
g)   Kalainan letak
h)   Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepaladan panggul)
i)     Rupture uteri mengancam
j)     Hydrocephalus
    k)      Primi muda atau tua
    l)        Partus dengan komplikasi
   m)    Panggul sempit
    n)      Problema plasenta

Indikasi yang menambah tingginya angka persalinan dengan sectio adalah :
a.  Malpersentasi janin
1.  Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah jalan /cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala letak lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara lain.

2.  Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
b. Plasenta previa sentralis dan lateralis
c. Presentasi lengkap bila reposisi tidak berhasil.
d. Gemeli menurut Eastman, sectio cesarea dianjurkan bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu, bila terjadi interior (looking of the twins), distosia karena tumor, gawat janin dan sebagainya.
e. Partus lama
f. Partus tidak maju
g. Pre-eklamsia dan hipertensi
h. Distosia serviks

D.    Tujuan Sectio Caesarea
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
E.     Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)
a. Abdomen (SC Abdominalis)
1. Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada corpus uteri. Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah uterus.
2. Sectio caesarea ekstraperitonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.

b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
-          Sayatan memanjang (longitudinal)
-          Sayatan melintang (tranversal)
-          Sayatan huruf T (T Insisian)

c. Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10cm.
Kelebihan :
1.      Mengeluarkan janin lebih memanjang
2.      Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
3.      Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan :
1.      Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonial yang  baik.
2.      Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
3.      Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang -kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.

d. Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm
Kelebihan :
1.      Penjahitan luka lebih mudah
2.      Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
3.      Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi uterus ke rongga perineum
4.      Perdarahan kurang
5.      Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan lebih kecil

Kekurangan :
Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.

F.     Komplikasi
a. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda.

b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri

c. Komplikasi - komplikasi lain seperti :
1.      Luka kandung kemih
2.      Embolisme paru – paru

G.    Prognosis (Sarwono,2005)
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong secara sectio caesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar     4-7 %       
  
H.    Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

I.       Pemeriksaan Penunjang
1.     Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2.     Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
3.     Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
4.     Urinalisis / kultur urine
5.     Pemeriksaan elektrolit

J.   Penatalaksanaan Medis Post SC
a.  Pemberian cairan
b.  Diet
c.  Mobilisasi
d.  Kateterisasi
e.  Pemberian obat-obatan :
1.  Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi

2.  Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu

3.  Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C

f.  Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti

g.  Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan. (Manuaba, 1999).


 

TELAAH JURNAL
NO
ISI JURNAL
PEMBAHASAN
1.
Latar Belakang :
Setiap wanita menginginkan persalinannya berjalan lancardan dapat melahirkan bayi dengan sempurna. Ada dua persalinan yaitu persalinan lewat vagina dan persalinan caesar atau sectio caesar yaitu tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram ( wiknjosatro, 2007 )..

  •  Menurut Depkes, 2010. Dari segi kesehatan ibu yang berumur < 20 tahun rahim dan panggul belum berkembang dengan baik, begitu sebaliknya yang berumur  > 35 tahun kesehatan dan keadaan rahim tidak sebaik seperti saat ibu berusia 20-35 tahun. Umur ibu < 20 tahun atau > 35 tahun merupakan umur yang tidak reproduktif atau umur tersebut dalam resiko tinggi kehamilan.
  • Kehamilan di usia muda atau remaja dibawah usia 20 tahun dapat menimbulkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan dikarenakan ibu mungkin belum siap untuk mempunyai anak dan alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan usia tua yaitu umur diatas 35 tahun akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan persalinan serta alat reproduksi ibu terlalu tua ( wiknjosastro, H. 2007 )
  •  Jadi, menurut kami usia yang bagus untuk kehamilan itu berarti  > 20 tahun dan tidak mencapai > 35 tahun, karena pada saat itu nrahim sudah matang dan sangat bagus untuk kehamilan dibandingkan < 20 tahun dan > 35 tahun yang bisa bberesiko terhadap kehamilan.
2.
Metode :
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif untuk menggambarkan angka kejadian caesarea. Populasi dalam penelitian ini adalah selurh ibu hamil yang telah dilakukan persalinan sectio caesarea di RSUD Liun Kendge Tahuna sebanyak 330 ib hamil. Sampel dalam penelitian ini dalah seluruh ibu hamil yang telah dilakukan tindakan operasi sectio caesarea di RSUD Liun Kendge Tahuna dengan indikasi persalinan tidak maju, gawat janin, preklampsia dan panggul sempit sebanyak 167 ibu. Data sampel yang digunakan data sekunder dari medical record pada bulan januari sampai agustus 2013. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan desember sampai blan januari 2014.

  •  Penelitian in i juga menggunakan analisa univariat yang menghasilkan frekuensi, distribusi, dan karakteristik responden dari variabel independen untuk mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan umur ibu, distribusi menurut pendidikan, distribusi faktor-faktor yang mempengaruhi sectio caesarea serta distribusi menurut pekerjaan.
  •  Menurut kelompok kami, penelitian yang dilakukan menggunakan analisa univariat ini lebih cepat membantu dalam proses penelitian karena menggunakan tabel yang membuat kita seara cepat mengetahui perbandingan dari beberapa distribusi yang dikaji.
3.
Hasil :
Dari hasil analisis univariat dihasilkan distribusi, frekuensi, dan karakteristik responden dari variabel independen (gawat janin, partus tak maju, preeklampsia, dan
panggul sempit) dan variabel dependen (sectio caesarea)
  • Berdasarkan hasil penelitian yang di peroleh di RSUD. Liun Kendage Tahuna pada tahun 2013, indikasi yang paling berperan dalam meningkatnya angka kejadian sectio caesarea adalah gawat janin sebanyak 52 responden (31,14%). Gawat janin merupakan salah satu indikasi yang banyak di temui pada ibu dengan persalinan sectio caesarea, ibu dengan gawat janin tidak dapat melakukan partus normal karena akan membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
  • Hal tersebut sesuai dengan teori Nugroho (2010) yang menyatakan bahwa , jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada lebih dari 1/5 diatas simfisis pubis atau bagian teratastulang kepala janin berada di atas stasion 0, lakukan persalinan dengan sectio caesarea.
  •  Menurut kami, gawat janin adalah keadan dimana janin tidak menerima asupan oksigen yang cukup sehingga ibu yang mengalami gawat janin tidak bisa melahirkan normal karena dapat membahayakan ibu dan bayi.
  • Berdasarkan hasil yang peneliti peroleh dari medical record RSUD Liun Kendage Tahuna pada tahun 2013 sebanyak 46 responden (27,55%) mengalami persalinan tidak maju yang merupakan salah satu indikasi di lakukannya sectio caesarea.
  •  Menurut Kasdu (2005) ketika persalinan tiba, tetapi kontraksi yang terjadi tidak sesuai dengan harapan maka perlu di lakukan tindakan induksi, jika kontraksi masih tetap berlangsung kurang baik maka persalinan di bantu dengan alat forcep (vakum) namun jika cara tersebut tidak berhasil maka akan segera di lakukan tindakan sectio caesarea.
  • ·Jadi, ibu yang mengalami partus tidak maju harus dilakukan sectio caesarea untuk menyelamatkan bayi.
  • Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari medical record RSUD Liun Kendage Tahuna tahun 2013, setelah gawat janin, dan partus tidak maju, pre eklampsia adalah indikasi terbesar ke tiga dari 167 responden sebanyak 41 responden (24,55%) mengalami pre eklampsia. Dari hasil penelitian juga menunjukkan ibu yang mengalami pre eklampsia memiliki latar belakang pendidikan SD dan SMP sebanyak 12 orang (29,26%).
  • Menurut\ Indiarti (2007) Ibu yang mengalami preeklamsi berat (keracunan kehamilan, hipertensi kehamilan) atau eklampsia (preeklampsia yang disertai kejang) harus di lakukan tindakan sectio caesarea. Tindakan sectio caesarea untuk perbaikan keadaan ibu dan mencegah kematian janin dalam uterus.
  •  Hasil dari medical record ditemukan dari 167 ibu yang dilakukan sectio caesarea dengan indikasi panggul sempit sebanyak 28 ibu (16,76%). Hal ini disebabkan oleh karena bentuk tubuh atau postur tubuh dan bentuk panggul ibu yang kecil sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan normal.
  • Hal-hal yang dapat terjadi apabila tidak dilakukan sectio caesarea yaitu, rupture uteri, terjadi fistula karena anak terlalu lama menekan pada jaringan lahir, terjadi edema dan bahaya pada janin yaitu pada panggul sempit sering     terjadi ketuban pecah dini dan kemudian infeksi intrapartum, terjadi prolaps funikuli dan dapat merusak otak yang mengakibatkan kematian pada janin (Prawirohardjo, 2009).
  • Jadi, sectio caesarea harus dilakukan untuk ibu hamil yang mengalami masalah dengan kehamilannya seperti gawat janin, partus tak maju, preeklampsia, dan panggul sempit agar ibu dan bayi dapat tertolong dan tidak meningkatnya angka kematian pada ibu dan bayi.
4.
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 faktor yang paling berperan dalam
peningkatan angka kejadian sectio caesarea di RSUD Liun Kendage Tahuna pada tahun 2013, diantara lain dari faktor janin yaitu gawat janin, dan dari faktor ibu yaitu persalinan tidak maju, preeklampsia serta panggul sempit..
  •  Dari hasil penelitian indikasi yang paling banyak berperan dalam peningkatan angka kejadian sectio caesarea di RSUD Liun Kendage Tahuna pada tahun 2013 yaitu gawat janin.
  • Dari hasil penelitian indikasi yang paling terendah perannya dalam peningkatan angka kejadian sectio caesarea di RSUD Liun Kendage Tahuna pada tahun 2013 yaitu panggul sempit.
  •  Jadi, keempat faktor tersebut dapat memicu terjadinya setio caesarea, antara lain gawat janin, partus tidak maju, preklampsia dan pangul sempit. Dan dari penelitian yang telah dilakukan di RSUD Liun Kendge Tahuna didapatkan angka terbesar terjadimya sectio caesarea adalah gawat janin dan yang paling sedikit adalah panggul sempit.
  • Jadi, Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus untuk menyelamatkan ibu yang mengalami gangguan dalam proses persalinan agar ibu dan bayi dapat diselamatkan.



BAB V
PENUTUP

         A.    Kesimpulan
Untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah Rahim maka perlu dilakukan section caesarea. Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.

        B.     Saran
Hendaknya petugas kesehatan dalam menentukan tindakan persalinan dengan sectio caesarea terhadap seorang ibu yang akan melahirkan tetap berpedoman pada indikasi yang dipersyaratkan atau sesuai dengan ketentuan medis.


DAFTAR PUSTAKA

Kasdu,Dini2003.Operasi Caesar Masalah dan Solusinya, Jakarta : Puspa Swara

Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas edisi 4. Jakarta : EGC.

Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan edisi 31. Jakarta : EGC.

Cunningham, Gary F. 2006. Obstetri Williams edisi 21 volume 1. Jakarta : EGC. Hal 466

Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah I, Bandung : Yayasan IKAPI

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramed




Tidak ada komentar:

Posting Komentar