kembang api


star

Selasa, 20 Juni 2017

Askep HIV AIDS



Contoh Laporan Kasus HIV AIDS
Oleh : Hendika Safitri
Kasus :
          Pada tanggal 6 februari 2017 Ny. SR masuk kerumah sakit X Padang dengan keluhan diare, mual muntah, demam dan badan lemas ± 1 bulan, sejak sakit BB turun 20 kg. Memburuk selama 5 hari terakhir, klien merasa pusing, nyeri telan, sariawan, nafsu makan turun, sesak, berjalan seperti orang mabuk. Klien mengatakan ini pertama kali klien dirawat dirumah sakit, klien mengatakan tidak pernah menderita hipertensi, TBC, DM, atau penyakit yang mengharuskan dirawat di RS,penyakit yang pernah diderita klien hanya demam dan batuk. Klien mengatakan bahwa keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti klien dan tidak ada keluarga yang  menderita penyakit menular.

A.  Pengkajian
a.      Identitas klien :
Nama                         : Ny. SR
Jenis Kelamin            : Perempuan
Umur                         : 34 tahun
Status Perkawinan    : Sudah Menikah
Pekerjaan                  : Penyanyi
Agam                        : Kristen
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat                      : Lawang
No.Register               : 11252540
Tanggal MRS            : 06-02-2017
Tanggal Pengkajian   : 06-02-2017

Rabu, 23 Maret 2016

KEPERAWATAN KELUARGA TIPE-TIPE KELUARGA



MAKALAH KEPERAWATAN KELUARGA
TIPE-TIPE KELUARGA



DISUSUN OLEH:

               HENDIKA SAFITRI
      

DOSEN PEMBIMBING:
Ns. MILYA NOVERA. S.Kep. MNS


Program Studi Ilmu Keperawatan
STIKes Alifah Padang
2016

PERUBAHAN FISIK YANG TERJADI PADA LANSIA



PERUBAHAN FISIK YANG TERJADI PADA LANSIA




DISUSUN OLEH :

                 HENDIKA SAFITRI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES ALIFAH PADANG
TH 2016


FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI PADA ANAK



FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI PADA ANAK






DISUSUN OLEH :

               HENDIKA SAFITRI




PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
STIKes ALIFAH PADANG
2016

SECTIO CAESSAREA




SECTIO CAESSAREA



Disusun oleh: 

HENDIKA SAFITRI



DOSEN PEMBIMBING : Ns. Revi Neini Ikbal, M. Kep



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES ALIFAH PADANG
                                                                             2016           




Rabu, 04 November 2015

Konsep terapi bermain dalam keperawatan jiwa



BAB  I
PENDAHULUAN


A.    Latar  Belakang
Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan, bukan ordes mini, juga bukan merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat dinilai secara sosial ekonomi, melainkan masa depan bangsa yang berhak atas pelayanan kesehatan secara individual. Anak membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Anak sebagai orang atau manusia yang mempunyai pikiran, sikap, perasaan dan minat yang berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan.
Bagi anak bermain merupakan seluruh aktivitas anak termasuk bekerja, kesenangannya dan merupakan metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih, dll. Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial.
Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain pada anak merupakan sarana untuk belajar. Bermain dan belajar untuk anak merupakan suatu kesatuan dan suatu proses yang terus menerus terjadi dalam kehidupannya. Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Melalui bermain anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan yang cemerlang. Bermain adalah pekerjaan anak. Dalam bermain anak mempraktekkan secara kontinu proses hidup yang rumit dan penuh stress,komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Di situlah mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka, misalnya bagaimana menghadapi lingkungan objek, waktu, ruang, struktur, dan dan orang di dalamnya. Stressor pada anak usia awal ( toddler & pra sekolah) pada reaksi emosional ditunjukan dengan menangis, marah dan berduka sebagai bentuk yang sehat dalam mengatasi stress karena hospitalisasi. Seorang anak  mempersepsikan sakit sebagai suatu hukuman untuk perilaku buruk, hal ini terjadi karena anak masih mempunyai keterbatasan tentang dunia di sekitar mereka. Anak mempuyai kesulitan dalam pemahaman mengapa mereka sakit, tidak biasa bermain dengan temannya, mengapa mereka terluka dan nyeri sehingga membuat mereka harus pergi ke rumah sakit dan harus mengalami hospitalisasi. Reaksi anak tentang hukuman yang diterimanya dapat bersifat passive, cooperative, membantu atau anak mencoba menghindar dari orang tua, anak menjadi marah.
Dengan ini, untuk mengurangi dampak hospitalisasi terhadap anak kita bermaksud untuk melaksanakan terapi bermain yang bertujuan untuk membantu anak terhindar dari stress, stressor dan dampak hospitalisasi yang mengancam pertumbuhan dan perkembangan anak.


TERAPI SOSIALISASI



BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang
         Sosialisasi adalah kemampuan untuk berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Penurunan sosialisasi dapat terjadi pada individu yang menarik diri, yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain (Rowlins, 1993). Dimana individu yang mempunyai mekanisme koping adaptif, maka peningkatan sosialisasi lebih mudah dilakukan. Sedangkan individu yang mempunyai mekanisme koping maladaptif (skizofrenia), bila tidak segera mendapatkan terapi atau penanganan yang baik akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih banyak dan lebih buruk. (Keliat dan Akemat, 2005) menjelaskan bahwa untuk peningkatan sosialisasi pada klien bisa dilakukan dengan pemberian Terapi Aktifitas Kelompok sosialisasi. Namun kenyatannya pada saat ini di Rumah Sakit Jiwa Menpengaruh TAK sosialisasi masih diragukan, hal ini disebabkan karena jumlah klien dengan riwayat menarik diri masih relatif banyak meskipun TAK sosialisasi sudah dilakukan.
             Hampir di seluruh dunia terdapat sekitar 450 juta (11%) orang yang mengalami skizofrenia (ringan sampai berat) (WHO, 2006). Hasil survey Kesehatan Mental Rumah Tangga di Indonesia menyatakan bahwa 185 orang per 1000 penduduk di Indonesia mengalami skizofrenia (ringan sampai berat). Berdasarkan survey di rumah sakit jiwa, masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah menarik diri (17,91 %), halusinasi (26,37 %), perilaku kekerasan (17,41 %), dan harga diri rendah (16,92 %).
              Terapi aktifitas kelompok sosialisasi sering digunakan dalam praktek kesehatan jiwa, bahkan dewasa ini terapi aktifitas kelompok merupakan hal yang penting dari ketrampilan terapeutik dalam keperawatan. Terapi kelompok telah diterima profesi kesehatan.



2.      Rumusan Masalah
1.      Apa itu terapi sosialisasi?
2.      Apa tujuan dari terapi sosialisasi?
3.      Bagaimana peran perawat dalam terapi sosialisasi?
4.      Bagaimana prosedur dari terapi sosialisasi?


3.      Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah:
1.      Menjelaskan pengertian dari terapi sosialisasi.
2.      Menjelaskan tujuan dari terapi sosialisasi.
3.      Menjelaskan peran perawat dalam terapi sosialisasi.
4.      Menjelaskan prosedur dari terapi sosialisasi